Privatisasi Krakatau Steel:

Pendahuluan

Kasus privatisasi Krakatau Steel (KS) menjadi isu hangat dalam minggu ini dan setidaknya untuk minggu-minggu ke depan. Pasalnya, terjadi perdebatan mengenai bagaimana cara yang paling efektif untuk melakukan privatisasi perusahaan baja nasional tersebut. Beberapa anggota DPR dan Pemerintah cenderung untuk melakukan model strategic sale bagi KS. Dengan alasan telah jelas yang dibutuhkan oleh KS sekarang adalah suntikan dana segar yang akan bisa menaikkan tingkat produksi.

Isu ini mencuat karena salah satu perusahaan yang menawarkan proposal kepada KS adalah perusahaan ArcelorMittal (India) yang akan berinvestasi ke Indonesia. Perusahaan terkaya nomor empat di dunia itu berencana untuk membeli sekitar 20-40% saham KS. Pilihan kedua dari pemerintah adalah dengan penawaran saham kepada publik atau initial public offering (IPO). Ini didukung oleh segenap manajemen dan Dewan Komisaris KS, karena menganggap jika melakukan model strategic sale, maka sama saja menjual aset negara yang bersifat strategis. Bahkan lebih lanjut, Komisaris KS menuduh pemerintah melakukan privatisasi KS hanya untuk berorientasi mengurangi defisit APBN.

Tulisan ini mencoba untuk mengurai mana yang lebih efektif dan efisien antara strategic sale atau initial public offering untuk dijalankan oleh Pemerintah.

Kondisi Krakatau Steel

Sebenarnya, kondisi KS boleh dibilang cukup bagus. Keuntungan KS cenderung meningkat. Setelah mengalami rugi di tahun 2006, tahun lalu KS berhasil memetik laba. Dan pada triwulan I-2008, BUMN ini memiliki saldo kas Rp 1 triliun dengan keuntungan Rp 211 miliar. Jika digabungkan dengan anak-anak perusahaannya, laba yang diperoleh hingga akhir Maret mencapai Rp 320 miliar. Dengan kinerja keuangan seperti itu, KS memiliki kemampuan untuk berhutang hingga Rp 10 triliun. Berikut ini adalah kinerja laba (rugi) KS dan anak perusahaannya dalam tahunan:

Tabel 1. Kinerja Laba (Rugi) KS dan Anak Perusahaannya (dalam Rp miliar)

Perusahaan

2007[1]

2006

Krakatau Steel

163,89

(236,09)

Latinusa

56,87

61,08

KHI Pipe Industries

9,54

4,05

Krakatau Wajatama

50,09

(1,55)

Krakatau Daya Listrik

23,16

15,41

Krakatau Tirta Industri

23,70

20,04

Krakatau Bandar Samudra

19,47

19,01

Krakatau Engineering

5,45

(3,41)

Krakatau Industrial Estate

29,07

(7,35)

Krakatau Media

2,75

0,928

Krakatau Information Tech

(0,398)

0,785

Total Konsolidasi

363,45

(135,07)

Sumber: Rencana Kerja Anggaran Perusahaan 2008 (BI, 15/4/08)

Kondisi di atas memang masih dalam prognosa dan bahkan belum dilakukan audit (untuk tahun 2007). Namun, prognosa di atas sebenarnya bisa dijadikan bukti, bahwa kondisi KS yang lebih baik dari tahun sebelumnya (2006). Kondisi membaik ini juga menjadi alasan para karyawan, manajemen, dan bahkan Dewan Komisaris menolak untuk menjual aset KS dalam bentuk strategic sale.

Tabel 2. Kinerja Krakatau Steel

Kinerja

2006

2007[2]

Total Aset

10.230,7

11.178,5

Total Kewajiban

5.445,6

5.942,5

Total Modal Disetor

3.303,5

3.303,5

Total Penjualan

12.078,1

14.872,2

Laba

-135,1

367,6

ROE (%)

-2,71

7,85

ROA (%)

-1,29

3,30

Debt of Equity Ratio

0,71

1,14

Sumber: Krakatau Steel, (Kortem, 17/4/08)

Kebutuhan mendesak bagi KS untuk menaikkan produksinya guna bisa bersaing di pasar internasional dan tentu saja memenuhi kebutuhan dalam negeri Indonesia. Kebutuhan dalam negeri yang semakin meningkat memerlukan langkah strategis. Langkah ini tentu saja dengan cara menambah modal guna menaikkan faktor produksi KS.

Kondisi konsumsi industri baja nasional juga semakin naik, bahkan dalam dua tahun ke depan diperkirakan akan naik sebesar satu ton. Total produksi dalam negeri setiap tahun tidak mencukupi. Indonesia perlu untuk mengimpor baja sebesar 3 juta ton. Dan diperkirakan pada tahun 2010 akan meningkat sekitar 0,5 juta ton. Tentunya dengan kondisi ini pemerintah perlu melakukan langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas BUMN ini. Berikut adalah kondisi industri baja nasional.

Tabel 3. Kondisi Industri Baja Nasional (juta ton)

Uraian

2007

2008

2010

Konsumsi produk akhir baja

6,90

9,00

10,44

Total produksi dalam negeri

5,43

7,02

8,14

Impor

2,55

2,99

3,29

Sumber : Road Map Kadin Indonesia (BI,15/4/08)

Pro-Kontra Privatisasi

Terdapat kelemahan dan kelebihan dalam memilih IPO atau strategic sale. Menneg BUMN Sofyan Djalil meminta manajemen PT. Krakatau Steel (KS) agar membuka diri terhadap rencana investasi senilai US$5 miliar oleh perusahaan raksasa ArcelorMittal di Indonesia. ArcelorMittal sendiri merupakan raksasa baja terbesar dunia dengan pendapatan pada 2007 sebesar US$ 105,21 miliar dan laba bersih senilai US$ 10,36 miliar. Langkah penawaran yang dilakukan melalui strategic partnership lebih didasarkan peningkatan kompetisi perusahaan pada 2015, pada saat AEC (ASEAN Economic Community) diterapkan pada 2015.[3]

Para karyawan KS dan Menneg BUMN sejauh ini cenderung memilih skema penawaran umum perdana (initial public offering) maksimal 40% saham perusahaan negara itu pada 2008. dengan produksi 5 juta ton pda 2011, KS hanya bisa mencukupi 57%-60% dari total kebutuhan nasional. Berdasarkan data Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia, kebutuhan baja nasional per tahun diperkirakan 8 juta-9 juta ton, sedangkan produksi baja domestik hanya 6 ton. Rencana penjualan 40% saham KS ke AcrelorMittal merupakan upaya mendongkrak produksi sampai 5 juta ton per tahun dari 2,5 juta ton tahun ini. [4]

Penjualan KS pada mitra strategis dipandang sebagai pilihan yang baik karena mitra yang tepat diyakini bakail mempercepat peningkatan kapasitas produksi baja di Indonesia. Di sisi lain, IPO dinilai bukan pilihan bijaksana di tengah kelesuan pasar saham saat ini. Namun, kelesuan pasar juga membuat penjualan strategis tidak pasti menguntungkan karena nilai penjualan akan ditentukan berdasarkan taksiran pasar yang sedang lesu.[5]

Pendanaan Investasi

Kesuksesan privatisasi melalui kemitraan strategis akan ditentukan oleh proses tata laksana yang transparan dan ketepatan memilih mitra strategis. Dibandingkan dengan IPO, penjualan pada mitra strategis mempunyai lebih banyak titik rawan. Untuk itu, keterbukaan dan kesepakatan bersama menjadi kata kunci bagi pengupayaan kemitraan. Selain mempunyai kemampuan pendanaan dan solusi teknologi, misalnya, mitra strategis juga disyaratkan memiliki kesesuaian motif, budaya, dan strategi pengembangan dengan para pemangku kepentingan. Berikut ini adalah rencana investasi KS dan pendanaan 2008-2010

Tabel 4. Rencana Investasi Krakatau Steel & Pendanaan 2008-2010

Joint Venture rotary klin:

  • Bagian ekuiltas berasal dari dana internal
  • Bagian pinjaman diperoleh dari PT. Bank Mandiri Tbk

Enterprise Resources planning (ERP):

  • Sumber dana internal

Proyek revitalisasi:

  • Kebutuhan pembiayaan berasal dari pinjaman jangka panjang

Sumber: Kementerian BUMN & KS

Dengan manajemen yang sehat, KS cukup pede dengan memiliki kemampuan berhutang sampai Rp.10 triliun. Untuk meningkatkan sekitar 5 juta ton dengan basis batubara pada tahun 2011, KS membutuhkan investasi senilai 600 juta dollar AS.[6]

Modal yang bertambah dengan melalui jalan IPO hanya sekita 200 juta dollar AS, tetapi hal ini dijawab oleh manajemen KS dengan mendapatkan sumber dana dari Bank seperti tabel di atas. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Rencana Pendanaan (Rp miliar)

Investasi

2008

2009

2010

Total

Rutin

173,60

60

70

303,60

Revitalisasi

612,66

646,86

552,47

1.811,98

ERP

32,04

14,46

5,16

51,66

JV rotary klin

47,88

146,52

194,40

Total investasi

886,18

867,84

627,63

2.361,65

Sumber: Kementerian BUMN & KS

Catatan: Mittal

Menurut Fahmi Idris, KS perlu mengejar sasaran peningkatan produksi dengan cara bermitra dengan ArcelorMittal. Cara ini dianggap lebih efisien dan bermanfaat. Bahkan produksi KS bisa digenjot menjadi 8-10 juta ton pada 2011. Opsi yang ditawarkan Mittal, pertama, dengan cara menggandeng PT Aneka Tambang Tbk. Kedua, bermitra strategis dengan KS lewat strukturisasi saham perusahaan. Dan ketiga, mendirikan perusahaan patungan bersama KS. Menurut M. Luthfi, kedatangan Mittal, adalah tindak lanjut dari surat Kamar Dagang dan Industri Inggris yang ditujukan ke BKPM.

Sampai dengan tahun 2005, satu-satunya pabrik baja yang dibangun Mittal adalah Ispatindo di Surabaya tahun 1976. Namun, sejak didirikan kapasitas produksi ini tak banyak berkembang. Mittal justru berkembang menjadi raksasa baja melalui akuisisi di berbagai perusahaan baja dunia. Kapasitas total produksi baja dalam konglomerasi ini mencapai 116 juta ton atau sekitar 10 persen dari total produksi dunia. Namun, uniknya Mittal tidak mengembangkan teknologi, tetapi perusahaan yang diakuisisinyalah yang melakukan.

Dalam Financial Times, 4 April 2008 disebutkan bahwa Nigeria membatalkan penjualan pabrik baja terbesar pada Mittal Group karena dugaan kecurangan. Perancis punya cerita berbeda. Pekerja ArcellorMittal berunjuk rasa setelah manajemen mengumumkan akan mem-PHK-kan lebih dari 1.000 pekerjanya hingga 2009.

Penutup

Sekarang, bola panas berada di tangan DPR dan Pemerintah. Dengan kedua pilihan ini sebenarnya sudah tergambar dampak dari penggunaan privatisasi model strategic sale atau dengan IPO. Tinggal keberanian dari DPR dan pemerintah untuk lebih mengutamakan kepentingan nasional ketimbang kepentingan sesaat, yaitu mengamankan APBN-P dan untuk 2009.

Salah langkah akan berdampak pada menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Pemerintah dan DPR. Terlebih lagi Krakatau Steel adalah salah satu BUMN strategis yang dimiliki Pemerintah lebih dari 30 tahun lalu.


[1] Prognosa, (INI APAAN?)

[2] Belum diaudit

[3] Bisnis Indonesia,15/4/08

[4] ibid

[5] Kompas, Menimbang antara IPO dan Mitra strategis, Kompas 18 April 2008

[6] idem

~ oleh brambontas pada 19 Mei 2008.

3 Tanggapan to “Privatisasi Krakatau Steel:”

  1. Infonya bagus walau saya baru baca sekarang. Terima kasih untuk penulisan ini.
    Hanya saja pada tabel (laba,rugi)dll. masih banyak yang hanya terlihat sebelah.
    Akan lebih baik jika di revisi dan di share kan kembali.

    Trims.

    Salam

  2. Terima kasih atas tulisan ini, dapat saya jadikan bahan untuk pembahasan disertasi saya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: